Berak Sekali Tarikan Napas Tidak Semudah Menulis Sekali Duduk

Berak sekali napas faktanya tidak semudah menulis sekali duduk. Berak atau buang air besar, walaupun kegiatan itu sudah kita lakukan sejak lahir, kenyataannya kita tidak mahir-mahir amat. Sedangkan menulis yang notabene kita mulai setelah masuk bangku sekolah, dapat kita tuntaskan hanya dalam sekali duduk.

Ya, menulis sekali duduk sangat mungkin kita laksanakan. Terlepas dari seberapa buruk dan menjijikan tulisan itu. Namun, berak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apalagi kalau mencoba melaksanakannya hanya dalam sekali tarikan napas.

Semakin mustahil lagi jika kita masuk ruang berak membawa sebatang rokok kretek. Kemungkinan sekali napas menjadi nol persen. Minimal ya dua puluh sampai tiga lima tarikan napas, tidak hanya satu napas. Kalau ada manusia yang bisa melakukannya, pastinya itu manusia super dalam mitologi apapun.

Saya yakin penulis kenamaan laiknya Tuan Pramoedya pun tidak mampu melakukan berak dalam sekali napas. Sekali napas itu sangat singkat, loh. Akan ada sesuatu mengganjal dan masih ingin keluar lewat lubang itu.

Pertimbangan berak pakai WC duduk atau jongkok memang selera masing-masing. Keduanya tetap saja mustahil dilakukan kalau hanya sekali napas.

Aduh, ampun sudah, saya mencoba melakukan berak sekali tarikan napas dan tidak merasakan kepuasan apapun. Seolah tidak berak sama sekali, karena memang tidak ada yang tuntas dalam menyampaikan hajat pada mulut kakus.

Sehingga saya menarik keputusan yang berani: berak sekali napas tidak semudah menulis sekali duduk.

Berak Sekali Tarikan Napas Tidak Semudah Menulis Sekali Duduk
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url