Pengalaman Memancing Ikan Betik di Sungai Tengah Sawah

Setiap pagi hampir satu tahun belakangan ini, kegiatan saya hanya ngopi karena sedang tidak boleh memancing.

Tiba-tiba saya teringat pada pengalaman memancing ikan betik di sungai tengah sawah dahulu. Itu terjadi saat saya masih kuliah, sekitar tujuh tahun lalu di 2016.

Ceritanya, saya ngontrak rumah bersama teman-teman. Nahasnya, mereka berbeda jurusan sepenuhnya dengan saya. Sehingga jadwal masuk pun juga berbeda.

Dari sepuluh orang, sembilan di antaranya jurusan agama Islam, sedangkan saya satu-satunya yang bukan jurusan itu.

Ternyata dari mereka, beberapa suka mancing ikan. Tentu, saya sangat antusias dengan ajakan mancing dari mereka.

Demi bisa memancing, saya meninggalkan jam kuliah apapun itu. Soalnya saat teman-teman yang lain kosong, seringkali saya masuk. Begitu pula sebaliknya.

Meninggalkan jam kuliah ternyata tidak buruk-buruk amat. Saya menjadi tahu ada ikan bernama betik atau betok.

Ikan itu dari pandangan pertama saya, merupakan gabungan dari ikan nila dan ikan cakar lumut (sapu-sapu). Ikan betik punya bentuk mirip nila, namun kulitnya tajam dan sangat keras layaknya cakar lumut.

Betik sangat mudah dipancing, dengan umpan apapun, dan pada waktu kapan saja. Mancing pada pagi, siang, atau sore bersama teman-teman itu, mayoritas mendapatkan ikan betik.

Memang ada beberapa jenis ikan lain yang kebetulan nyangkut ke kail, seperti ikan ndaringan (garithel), wader, gurami, dan merah ganting. Jika sedang beruntung, kita bisa mendapat lele dan gabus dengan seukuran betis.

Mendapat ikan besar artinya teman-teman satu kontrakan akan makan daging pada malam hari. Kita disambut layaknya pahlawan yang menang perang jika mendapat ikan besar.

Pada saat itu, pikiran tentang meninggalkan jam kuliah sudah hilang tak tersisa sama sekali.

Pernah sekali waktu mendapat ikan betik sebanyak satu keranjang penuh, dengan rata-rata ukuran satu telapak tangan.

Sebenarnya, teman-teman kontrakan lebih suka ikan betik anakan yang masih kecil-kecil, karena kalau digoreng bisa langsung kriuk dimakan semuanya. Termasuk bagian kepala, tulang, sisik, bahkan kotorannya.

Sedangkan kalau ukurannya satu telapak tangan agak sulit, dagingnya sedikit, kulitnya keras, sisik insang tajam.

Untung bukan kepalang, salah satu teman kontrakan yang sama-sama suka mancing menjadi koki dadakan setiap kali kita pulang bawa ikan.

Semua hal yang berurusan dengan ikan betik keparat itu ditangani olehnya. Kita tinggal menunggu ikan matang digoreng, sambal siap disajikan, nasi dihidangkan, dan kerupuk sudah dibeli sambil merokok santai di depan.

Seringnya meninggalkan jam kuliah membuat saya molor satu semester. Sebenarnya dua semester, entah kenapa dosen pembimbing waktu itu tampak kasihan dan meminta saya segera sidang.

Tentu saja, itu bukan salah ikan betik, bukan pula salah teman-teman kontrakan. Saya tidak memiliki penyesalan menghabiskan waktu kuliah untuk memancing ikan betik di sungai tengah sawah.

Pengalaman Memancing Ikan Betik di Sungai Tengah Sawah
Sumber gambar Muat Artikel
Next Post Previous Post
2 Comments
  • Riuzaki
    Riuzaki 9/19/2023 8:47 AM

    Kasih info spot mancing di grup facebook, besoknya langsung abis ikannya wkwkwk

    • Masrum
      Masrum 9/19/2023 10:35 AM

      Bener banget. Besoknya dipancing udah jarang nyangkut ikan betiknya 🤣🤣🤣

Add Comment
comment url