Beras

Perjalanan semakin berat ya, Sayang. Kukira kita sedang menyeret bola besi yang terkunci di kaki, menginjak paku dan batu, ternyata kita hanya menginjak dewasa.

Tampaknya kita juga semakin buta dan tuli. Tidak mampu (atau tidak mau?) melihat kenyataan yang teramat seram. Tidak mampu (atau tidak mau?) mendengar suara hati yang kian kabur.

Lihatlah sepuluh atau dua puluh tahun lalu, di mana kita masih berada di dalam balutan kasih sayang semua orang. Sewaktu anak-anak, setiap orang memandang kita dengan tatapan yang amat gemas. Sedangkan sekarang? Jangankan gemas, Sayang. Tatapan itu berubah jadi semacam sinar kejijikan tersendiri.

Sinar yang lambat laun menembus perasaan kita, membuat kita hanya tersenyum di bibir, dan memaki mereka di hati.

Tentu tidak apa-apa, ini semua hanya bagian kecil dari perjalanan. Tidak ada rasa sakit yang demikian tidak bisa kita hadapi.

Engkau pernah bilang, sebelum manusia kelihatan, sewaktu manusia masih berada di alam kandungan. Kita diperlihatkan kehidupan kita di dunia nantinya. Ketika kita lahir, berarti sebenarnya kita sudah menerima dan setuju dengan kehidupan ini jauh sebelum kehidupan benar-benar terjadi.

Kita manusia yang kuat? Bukannya begitu?

Tetapi makin hari makin hilang satu per satu dari impian kita. Makin murung dan tidak jelas arahnya. Sementara usia yang terus bertambah, kita hanya terpaku melihat ke belakang, samar-samar menatap ke depan namun sama sekali tidak berani melangkah.

Tulisan ini hanya sekadar gurauan, kau pasti tahu itu, Sayang.

Pada akhirnya tujuanku hanya bertanya soal ini: apakah besok masih belum ada beras untuk dimasak?

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url